Mental Seorang Susi Susanti
Berbicara tentang Susi Susanti, ingatan kita tentu tak terlepas dari momen emas Olimpiade Barcelona 1992, saat pebulutangkis Susi Susanti dan Alan Budikusuma masing-masing mempersembahkan satu medali emas untuk Indonesia, tentunya dari cabang olahraga bulutangkis
. Tulisan ini akan menyemangati kita semua setelah mengerti kekuatan dari sebuah ‘fokus‘.
Beberapa hari lalu, salah satu stasiun TV swasta meliput tentang kehidupan Susi Susanti dalam tajuk ‘Sang Juara. Selain bercerita tentang aktivitas hariannya saat ini selepas gantung raket, Susi Susanti membukakan hal yang menarik untuk kita ketahui dan terapkan bersama, yaitu ‘Rahasia Mental Seorang Pemenang’.
Dengan pembawaannya yang tenang saat wawancara, Susi Susanti menyatakan bahwa seperti apapun keadaan yang terjadi ketika bertanding di lapangan (baik ketika bertanding di tanah air ataupun ketika bertanding di kandang lawan), ia harus tetap dapat menguasai diri sepenuhnya.
Keadaan bisa saja tidak menguntungkan di arena pertandingan, serangan mental dapat datang dari berbagai arah, dari wasit, suporter lawan, lawan main, keadaan fisik. Namun, rupanya hal-hal seperti ini tidak boleh mempengaruhi diri seorang atlet bermental pemenang. Atlet bermental pemenang harus mampu memegang kendali atas dirinya, dan bukannya membiarkan keadaan untuk mengendalikannya. Dengan mengendalikan dirinya, ia akan mampu bertarung dengan konsentrasi penuh, apapun yang terjadi, dan tidak bertanding asal-asalan sekedar untuk menyelesaikan waktu pertandingan.
Susi Susanti, seorang atlet bermental pemenang bukannya berarti tidak pernah mengalami kekalahan. Jika ternyata hasil akhir pertandingan menyatakan ia kalah, perjuangannya untuk menguasai diri sepenuhnya sampai pertandingan usai adalah kemenangan non fisik yang sangat tinggi nilainya. Kemenangan non fisik ini memiliki potensi kekuatan yang tersembunyi, yaitu kekuatan untuk menang dalam menghadapi segala tantangan di kehidupannya seperti dalam rumah tangga, membesarkan dan mendidik anak-anak, merintis dan mengembangkan bisnisnya.
Teman-teman…yuk dalam perjalanan kehidupan ini, kita belajar untuk memupuk mental sebagai seorang pemenang. Keadaan sekitar kita mungkin tidak menguntungkan, bisa jadi kita mempunyai beban kerja di kantor yang tak sepadan dengan gaji, bos yang paranoid, kenaikan karir yang tidak jelas, napas bisnis yang sedang terengah-engah untuk mendaki. Namun apapun yang terjadi, kuasai diri sepenuhnya untuk bertanding menghadapi tantangan-tantangan tersebut agar kita tidak bertanding asal-asalan.
Alih-alih kebingungan, berfokuslah untuk melakukan yang terbaik sampai saatnya tiba untuk bergerak naik meninggalkan zona kenyamanan, yaitu berani dan belajar untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa kita lakukan.





