Hikmah di Balik Akhir Kesuksesan Pengusaha Tahu Sumedang
Seorang bapak penjual tahu Sumedang, itulah profesinya. Namun dengan profesinya, ia mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Ikuti sepenggal kisah sang bapak ini dan petik hikmahnya. berani memilih untuk berpikir benar setelah mendengar ataupun melihat sisi negatif dari kehidupan, adalah hal yang sangat krusial dalam menentukan kesuksesan ataupun kegagalan masa depan.
Meskipun tergolong sukses, bapak penjual tahu Sumedang ini memiliki pendengaran yang agak kurang baik, sehingga ia tidak dapat mengikuti informasi terkini melalui radio ataupun televisi. Ia juga memiliki gangguan penglihatan sehingga ia tidak membaca koran untuk mengetahui hal-hal yang tengah terjadi di sekitarnya.
Namun, di tengah keterbatasan fisiknya, sang bapak terbilang berhasil dalam hal berdagang tahu Sumedang produksi sendiri. Ia berpromosi dengan cara yang ia tahu, menurut pikirannya sendiri. Dengan pakaian yang bersih dan layak untuk menjumpai setiap calon pembelinya, ia berseru sambil membawa papan iklan dengan gambar tahu spesialnya, “Tahu Sumedang panas, Bu, Pak. Dimakan hangat dengan sambal kecap!”
Dengan cara ini, setiap hari ia selalu mendapatkan pelanggan baru. Akhirnya sang bapak harus menambah modal kerjanya karena penjualannya makin meningkat. Ia memerlukan kompor lebih besar, penggorengan yang mampu memuat lebih banyak, tempat usaha yang lebih luas dan mempekerjakan beberapa orang untuk membantunya.
Suatu ketika, tiba saatnya untuk sang bapak mengirimkan anaknya untuk bersekolah ke jenjang perguruan tinggi. Dengan hasil usahanya selama ini, ia mampu melakukannya…bahkan tanpa berhutang.
Setelah anaknya lulus ujian saringan masuk, sang anak pun memulai hari-harinya sebagai seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi favorit…dengan uang dari usaha tahu Sumedang yang dilakukan ayahnya.
Sang anak, dengan pergaulan yang makin luas dan ilmu yang makin bertambah, ia pun banyak menyerap berbagai informasi. Ia tertarik pada berita-berita politik dan bisnis. Banyak membaca dan mendengar, tanpa mempunyai pertahanan diri, informasi yang ia dengar pun mulai menghantuinya. Ia pun bercerita pada ayahnya, sang pengusaha tahu, betapa situasi ekonomi sekarang sangat sulit dan pastinya cepat atau lambat akan berpengaruh ke usaha yang dilakukan ayahnya. Pasokan kedelai sebagai bahan utama sedang mengalami penurunan, harga bahan baku pun cepat atau lambat akan mengalami kenaikan. Kelangsungan bisnis pun harus dipikirkan untuk dapat bertahan dengan skala saat ini.
Sang ayah, pengusaha tahu Sumedang pun berpikir, “Benar juga anak saya ini. Ia tentunya lebih pintar dan mendapatkan lebih banyak informasi karena statusnya adalah mahasiswa. Sedangkan saya…saya tidak pernah membaca ataupun mendengar informasi seperti ini”.
Sejak hari sang bapak pengusaha tahu ini menerima informasi tesebut dari anaknya, tidak pernah lagi ia melakukan promosi yang biasanya rutin ia lakukan. Sampai pada akhirnya, penjualannya pun menurun, ia pun harus memberhentikan beberapa orang pegawai.
Waspadalah:
- Berita/informasi negatif terkadang menuntun pikiran kita kepada pesimisme, alih-alih melihat peluang yang tersembunyi di balik tantangan.
- Orang-orang terdekat adalah orang-orang yang biasanya menghalangi kita untuk meninggalkan zona kenyamanan, yaitu zona yang aman dari segala tantangan, namun tidak pula menjanjikan kemajuan untuk kehidupan kita.





