Mengenal Prinsip Perkalian
Asyik googling mengenai cara mudah untuk anak belajar matematika, akhirnya sampailah pada keinginan untuk mengintip pelajaran SD kelas satu. Oh, ternyata sudah belajar perkalian rupanya. Saat bertamu di website yang kemarin, saya sempatkan untuk menengok soal-soal K-2, TK-B mah, ya kalau di Indonesia. Ternyata pelajaran berhitung dengan memperkenalkan prinsip perkalian sudah mulai diberikan di TK-B. Mengenal prinsip jangan dibayangkan sebagai sesuatu yang njlimet, ya…nggak kok.
Saya masih ingat, jemunya menghapal perkalian. Tentunya, kami tidak ingin itu terulang. Kami tidak ingin si sulung kami menangkap dunia anak belajar dipenuhi rasa jemu di tahap awal dan alergi terhadap matematika.
Beberapa hal yang penting disampaikan ketika mengajar anak mengenai prinsip perkalian adalah:
Warna-warni tetap menarik
Gambar berwarna-warni tetap merupakan penarik bagi si kecil untuk belajar. Sedapat mungkin gunakan gambar-gambar yang sesuai dengan benda atau makanan kesukaannya, misalnya bola, es krim, mobil, alat musik, telur rebus.
Kenalkan manfaat perkalian
Tidak mengenal manfaat perkalian, maka tidak sayang. Selanjutnya, rasa jemulah yang akan timbul. Untuk mengenal sesuatu, harus ada teaser-nya…penggelitik agar si kecil timbul antusiasmenya.
Ayah-Bunda: Rein, sini…ada rahasia untuk menghitung secara cepat jumlah bola-bola yang ada di kotak ini. Nanti kamu menghitungnya nggak usah ditunjuk satu-persatu lagi. Cepat, lho jadinya! (umpan sudah mulai diberikan
)
Perkalian bilangan sepuluh
Ini adalah cara paling mudah untuk membawa anak mengerti prinsip perkalian, yaitu dengan mengajak anak belajar perkalian bilangan sepuluh. Jangan dulu menyuruhnya untuk menghapal perkalian sebelum anak menangkap prinsip perkalian.
Ayah-Bunda: Ada dua mangkuk besar berisi telur rebus.
Si Kecil: Ini…dan ini (sambil menunjuk gambar mangkuk berisi telur rebus).
Ayah-Bunda: Iya…lalu coba kamu hitung, berapa telur rebus yang ada di mangkuk pada gambar sebelah bawah!
Si Kecil: (sambil menunjuk gambar telur rebus satu-persatu) Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Ada sepuluh, Ayah…Bunda.
Ayah-Bunda: Nah, coba lihat mangkuk besar berisi telur rebus yang di sebelah atas…itu belum dihitung kan? Coba perhatikan, apakah jumlah telur rebusnya sama?
Si Kecil: Iya.
Ayah-Bunda: Nah, kalau begitu berarti telur rebus yang diletakkan di kedua mangkuk itu jumlahnya sama, yaitu sepuluh telur rebus di gambar mangkuk sebelah bawah dan sepuluh telur rebus di gambar mangkuk sebelah atas. Itu berarti 2 x 10….sepuluhnya ada dua.
Di tahap ini, yang terpenting adalah agar si kecil mampu menangkap pengertian 2 x 10 (melanjutkan contoh di atas).
Uji apakah ia sudah mengerti
Uji dengan contoh kasus yang sama dan masih menggunakan bilangan sepuluh.
Ayah-Bunda: Coba, kita main kuis-kuisan, ya. Kalau Bunda punya tiga mangkuk telur rebus, gambarnya seperti tadi…tetapi mangkuknya ada tiga. Jadi menulis perkaliannya bagaimana?
Si Kecil: (menyiapkan pensilnya)
Ayah-Bunda: Pertama-tama kita hitung mangkuknya dulu, selanjutnya kita hitung benda yang di dalam mangkuk. Berapa jumlah mangkuknya?
Si Kecil: Tiga
Ayah-Bunda: Tuliskan ’3′ dan tanda ‘x’. Lalu kita akan melihat isi mangkuknya. Berapa jumlah telur rebus di mangkuk sebelah bawah, atas, dan tengah?
Si Kecil: Sepuluh.
Ayah-Bunda: Bagus, jadi ada sepuluh telur rebus masing-masing di mangkuk sebelah bawah, atas, tengahJadi, tuliskan angka ’10′.Sekarang coba baca angka yang sudah kamu tulis, Nak. Ceritakan ke Ayah-Bunda. Perhatikan, caranya begini…ikuti Ayah-Bunda!
Bunda menunjuk ’3 x 10′ (angka tiga, tanda kali, dan angka sepuluh) sambil diikuti ucapan.
Ayah-Bunda dan Si Kecil: Tiga mangkuk, isinya masing-masing sepuluh telur rebus. Jadi, sepuluhnya ada tiga.
Ulangi lagi dengan gambar yang berbeda, misalnya bola dan minta si kecil menuangkan gambar itu dalam bentuk perkalian. Setelah itu minta si kecil menceritakan operasi perkalian yang telah ditulisnya.






Sumbang saran Bun:
Penulisan perkalian yang Bunda berikan (mengenai 2 kotak yang berisi masing2 10 telur rebus) kurang tepat. Jika kasusnya demikian maka penulisan yang tepat adalah 2×10 (bukan 10×2). Meski hasil akhirya sama (sama-sama 20) tetapi pengertiannya berbeda.
2×10=10+10, sedangkan 10×2=2+2+2+2+2+2+2+2+2+2. Karena prinsip dasar perkalian adalah berdasarkan penjumlahan, maka penulisannya harus tepat (Ntar pas ujian kelas 3 ada lho soal seperti ini).
Contoh nyata adalah penulisan aturan minum pada label obat. 3×1=1+1+1, yang artinya diminum 1 butir sebanyak 3x. Beda dengan 1×3=3, yang artinya diminum 3 butir sebanyak 1x.
Selamat mengajar ya Bun
Hai Martha, thanks ya…saya cari referensinya memang demikian seperti apa yang Martha sampaikan. Artikelnya juga sudah diperbaiki. Terima kasih untuk berbagi dan memberikan koreksi demi manfaat bersama.
=======================================================