Kakak Sayang Adiknya

Kakak sayang adikSekedar berbagi (bukan menggurui :) ) cara agar kakak belajar menyayangi adiknya. Terutama untuk keluarga yang telah disemarakkan dengan lebih dari satu anak, dengan status kakak dan adik, semarak dengan canda, tetapi tidak hanya itu. Terkadang juga sedikit meninggi nada bicara Bunda kepada si sulung tatkala situasi tidak sinkron. Ada bayi yang harus diurus dan ada si sulung yang terus-menerus dibentuk untuk belajar menjadi anak mandiri dan bertanggung jawab.

Kami acungkan jempol untuk si kecil, si sulung kami. Sang kakak, kami nilai sebagai kakak yang sayang terhadap adiknya. Tidak pernah satu hari pun dalam pengamatan kami, ia berusaha mencari perhatian dari Ayah-Bunda dengan mengganggu bahkan menyakiti adiknya.

Seingat kami, ini yang kami sampaikan kepada si sulung: 

Kita semua adalah teman bagi si bayi

Bunda: Rein, kamu dan mama itu adalah teman adik. Yuk, kita main sama-sama.

Kamu dulu juga begitu

Bunda: Rein, dulu kamu juga sama seperti ini. Kecil, lucu. Ayah-Bunda juga gendong-gendong dan cium-cium kamu seperti Ayah-Bunda cium-cium adik. Dimandikan, menyusu, tidur, main, tertawa, menangis hanya sebentar-sebentar. Lucu, ya?

Sentuhan fisik

Ungkapan sayang diwujudkan dengan sentuhan kepada si kakak dan adiknya. Seringkali, ketika Bunda menggendong si adik dan menikmati kelucuannya, Bunda mencari teman untuk dapat ikut tertawa bersama, Bunda memanggil si kakak yang sedang asyik main sendiri di ruang depan, memeluknya dan  mengatakan bahwa Bunda sayang kepada keduanya.

Pujian yang tulus

Ayah-Bunda: Kamu kakak yang baik, Rein. Kamu sayang adik, ya! Kamu benar-benar kakak yang baik.

Contoh dari film dan kejadian di lingkungan sekitar

Di sebuah ruang tunggu rumah sakit, seorang kakak merebut mainan adiknya.

Bunda: Rein, kamu tidak seperti itu, ya! Kamu kakak yang baik, tidak merebut mainan adik. Kemarin bahkan kamu main sama-sama adik, kan?. Adik kenal kamu, lho dan dia tahu kamu kakak yang baik.

Review didikan

Pernah suatu ketika si kakak bertanya, apakah nanti kalau adik sudah besar akan dimarahi juga seperti dirinya. Hmmm…dimarahi itu istilah anak kecil ketika anak menerima didikan orang tua rupanya :) . Kami harus ingatkan lagi, bahwa sewaktu bayi dulu, si kakak juga diperlakukan sama dengan si adik bayi saat ini. 

Ayah-Bunda: Rein, Ayah-Bunda tidak selalu marah, lho. Coba ingat-ingat. Kalau kamu tidak patuh terus-menerus, baru Ayah-Bunda peringatkan. Untuk apa? Supaya kamu selamat, Rein. Kamu diingatkan supaya kamu selamat karena Ayah-Bunda sayang kamu. Nanti adik kalau sudah mengerti diajak bicara, ya sama saja. Ingat tidak waktu itu kamu tidak mau patuh waktu naik sepeda? Menikung dengan kecepatan tinggi? Akibatnya jatuh dan luka, kan?

Si Sulung: Iya

Ayah-Bunda: Itulah, kamu diperingatkan, diminta patuh supaya kamu selamat. Nanti, jika adik sudah mulai mengerti diajak bicara, Ayah-Bunda akan memperingatkan adik juga supaya selamat. 

 

Dengan melakukan review didikan seperti ini, si kakak pun akan mengerti mengapa dia dididik dengan cara yang dia sebut sebagai ‘Ayah-Bunda marah’ sedangkan adiknya seolah lebih disayangi. 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>